Halaman

Selasa, 27 Maret 2012

TANAH UTUH DAN TANAH TERGANGGU
A. Tinjauan Pustaka
Tanah dikenal sebagai sistem porus atau dengan sebutan sistem tiga fase, yaitu terbentuk dari fase padat, cairan dan gas, seperti pada Gambar 2. Fase cairan terdiri dari air tanah yang mengandung bahan-bahan mineral dan organik. Jadi air tanah (soil water) disini yang juga sering disebut dengan kelembaban tanah (soil moisture) diartikan sebagai air yang terdapat pada solum atau lapisan tanah. Air tanah ini dijumpai dalam bentuk cairan, padat (es) dan gas (uap air).Secara garis besar tanah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian padatan dan bagian kosong atau pori (makro dan mikro) yang dapat diisi air dan udara. Komposisi dan keberadaan bagian-bagian ini akan menentukan kedudukan dan sifat tanah, seperti potensial tekanan dan kandungan airnya serta kerapatan volume dan konduktivitas hidroliknya.Menurut Lembaga Penelitian Tanah (1979), definisi berat isi tanah adalah berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan kering dibagi dengan volume tanah, dinyatakan dalam g/cm3 (g/cc). Nilai berat isi tanah sangat bervariasi antara satu titik dengan titik lainnya karena perbedaa kandungan bahan organik, tekstur tanah, kedalaman tanah,        

Pengertian Porositas
Porositas merupakan hal yang sangat penting untuk mengukur ruang kosong yang tersedia bagi tempat menyimpan fluida hidrokarbon. Porositas (Φ) adalah kemampuan suatu batuan untuk menyimpan fluida. Porositas adalah perbandingan ruang kosong /pori-pori dalam batuan dengan keseluruhan volume batuan dikali 100 (untuk menyatakan persen).
Porositas dibagi 2 berdasarkan asal usulnya :
1. Original (Primary) Porosity
Porositas yang terbentuk ketika proses pengendapan batuan (deposisi) tanpa ada faktor lain. Pada umumnya terjadi pada porositas antar butiran pada batupasir, antar Kristal pada batukapur, atau porositas oolitic pada batukapur.
2. Induced (Secondary) Porosity
porositas yang terbentuk setelah proses deposisi batuan karena beberapa proses geologi yang terjadi pada batuan tersebut, seperti proses intrusi, fault, retakan, dan sebagainya. Proses tersebut akan mengakibatkan lapisan yang sebelumnya non-porosity/permeabelitas menjadi lapisan berporositas. Contohnya retakan pada shale dan batukapur, dan vugs atau lubang-lubang akibat pelarutan pada batukapur.
Batuan yang berporositas original lebih seragam dalam karakteristik batuannya daripada porositas induced.
  • Porositas berdasarkan kualitas :
- Intergranuler : Pori-pori terdapat di antara butir.
- Interkristalin : Pori-pori terdapat di antara kristal. - Celah dan rekah : Pori- pori terdapat di antara celah/rekahan.
-Pin-point porosity : Pori-pori merupakan bintik-bintik terpisah-pisah, tanpa terlihat bersambungan.
-Tight : Butir-butir berdekatan dan kompak sehingga pori-pori kecil sekali dan hampir tidak ada porositas.
- Dense : Batuan sangat kecil sehingga hampir tidak ada porositas.
- Vugular : Rongga-rongga besar yang berdiameter beberapa mili dan kelihatan sekali bentuk bentuknya tidak beraturan, sehingga porositas besar.
- Cavernous : Rongga-rongga besar sekali yang merupakan gua-gua, sehingga porositasnya besar.
  • Porositas berdasarkan kuantitas :
- ( 0% – 5 %) dapat diabaikan (negligible)
- (5% – 10%) buruk (poor)
- (10%- 15%) cukup baik (fair)
- (15%- 20%) baik (good)

B. Metode Praktikum
1. Tempat Dan Waktu Praktikum
            Praktikum Dasar-dasar Ilmu tanah dengan pembahasan penentuan volume tanah utuh dan terganggu dilaksanakan di lapangan daerah Fakultas Pertanian Universitas Jambi, lapangan tanah dekat lab. Agroklimatologi – lab. Kimia tanah  pada hari rabu tanggal 19-26  Oktober 2011 pada pukul 08.00 – 10.00 WIB.
2. Alat
Bahan dan alat praktikum yang digunakan yaitu :
  • Ring sampler
  • Gelas ukur
  • Parang
  • Oven
  • Timbangan digital
  • Cangkul
  • Pisau
  • Kertas label
  • Penggaris dan jangka sorong
  • Kalkulator
3. Cara Kerja
Adapun cara praktikum ini adalah :
1.        Menentukan lokasi pengamatan.
2.        Membersihkan daerah pengamatan dari vegetasi yang mengganggu.
3.        Persiapkan pengambilan tanah  utuh : siapkan 2 buah ring hindari perakaran usahakan tanah tempat penancapan ring bersih namun tidak terusik, tancapkan secara perlahan ring kedalam tanah. Setelah ring satu penuh, kembali tancapkan ring kedua diatas ring satu tekan secara perlahan hingga ring sepenuhnya tenggelam.


















4.        Ambil bongkahan ring secara hati-hati, ratakan bagian atas tutup dengan tutup galon sebagai pengaman
5.        Ambil sampel tanah terganggu, tanah terganggu cukup bongkahan tanah yang di hancurkan disekitar pengambilan tanah utuh.
6.        Bawa ke lab. Ilmu tanah untuk ditimbang kedua sampel
7.        Pengeringan tanah terganggu dan tanah utuh : bagi tanah utuh disimpan dalam oven guna pengeringan air mutlak selama 48 jam lebih dengan suhu 105oC. bagi tanah terganggu, dijemur di lapangan dengan tidak terkena matahari langsung.
8.        Dari data yang  didapat dari hasil tadi catat. Tentukan berat tanah basah dan kering, volume ring, berat vol. air.
9.        disiapkan buatlah laporan.

C. Hasil Dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Setelah melakukan Pengamatan dapat ditentukan :
No.
Kel.
BTB +
Ring
(gram)
BTK+
Ring
(gram)
Berat Ring
(gram)
BTB
(gram)
BTK
(gram)
Volum Ring
m3
KA. Lapang
(%)
BV
(gr/cm3)
TRP
(%)
1
1
227,9
167,5
43,7
184,2
123,8
94,6
63,44
1,30
51
2
2
213,7
175,9
44,6
169,1
131,3
96,90
28,80
1,35
49,05
3
3
207,6
179,1
60,3
147,3
118,8
94,03
23,98
1,26
52,45
4
4
251,1
218
85,3
165,8
132,7
92,96
24,94
1,43
46,04
5
5
222,1
189,7
43,1
179
146,6
94,95
22,10
1,54
41,88
6
6
194
167,7
42,1
151,9
125,6
90,80
20,94
1,38
47,92
7
7









Keterangan :
BTB                            : Berat Tanah Basah
BTK                            : Berat Tanah Kering
KA. Lapang                : Kapasitas Air Lapang
TRP                             : Total Ruang Pori
BV                              : bobot Vol. tanah
Dengan rumus :
 

            Berat jenis tanah = 2,65 gr/cm3

2.  Pembahasan
Praktikum pada kali ini praktikan melakukan pengovenan pada sample tanah. Pada tanah di cari nilai dari berat tanah kering, berat tanah  basah, berat ring, volume ring, kapasitas air lapang, bobot tanah, total ruang pori, setelah sebelumnya tanah di oven selama 48 jam, hingga diulang beberapa jam sampai kering mutlak. Pada hasil perhitungan kelompok 1, Berat tanah basah 184,2 sedangkan berat tanah kering 123,8 selisih keduanya 50,4 gr, jadi kemampuan tanah tersebut dapat menyerap air sebanyak 50,4 gr. Dengan mengetahui ini kita dapat menentukan jumlah kadar air tanah pada suatu tempat yang sangat berguna dalam hal pertanian. Menentukan total ruang pori  sehingga berapa banyak ruang bagi air untuk disimpan dalam keadaan tertentu. Setelah praktikan melakukan praktikum ini, dapat diketahui bahwa sifat fisik dari  setiap tanah berbeda-beda walau pun jaraknya berdekatan Dengan perbedaan fisik tanah tersebut kita dapat menentukan kelebihan dan kekurangan tanah, sehingga kita dapat mengetahui tanah yang baik untuk pertanian atau untuk keperluan lainya.





D.  Kesimpulan
terjadi perbedaan berat yang terjadi ketika keadaan tanah sesungguhnya dibandingkan kepada tanah yang dioven, hal ini karena tanah  mengandung air. Nilai dari bobot isi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pengolahan tanah, bahan organik, pemadatan oleh alat-alat pertanian, tekstur, struktur, kandungan air tanah dan lain-lain. Semakin padat tekstur tanah maka semakin sedikit bobot isi tanah tersebut. Semakin kecil ukuran tanah maka bobot isi semakin besar dan semakin besar ukuran tanah maka bobot isi semakin kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar